Jakarta – Balai Veteriner Banjarbaru turut menjadi salah satu peserta dalam kegiatan Rapat Teknis Penyusunan Petunjuk Teknis (Juknis) Aplikasi Integrated Veterinary Laboratory (IVLAB) yang diselenggarakan oleh Direktorat Kesehatan Hewan pada tanggal 6 dan 7 April 2026 di Jakarta.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam merumuskan pedoman operasional yang komprehensif sebagai acuan teknis dan administratif dalam pelaksanaan serta pengembangan implementasi IVLAB secara terintegrasi di laboratorium veteriner pusat maupun daerah.
Rapat teknis tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya penguatan sistem layanan laboratorium veteriner melalui transformasi digital yang modern, adaptif, aman, dan terintegrasi. Penyusunan Juknis IVLAB diharapkan mampu mendukung keseragaman pola kerja, standardisasi proses bisnis laboratorium veteriner, serta tertib administrasi pada seluruh tingkatan pelaksana.
Melalui penyusunan pedoman ini, integrasi data dan informasi laboratorium veteriner diharapkan dapat berjalan lebih optimal sehingga mendukung pelayanan kesehatan hewan, kesehatan masyarakat veteriner, pengendalian penyakit hewan, serta pengambilan kebijakan berbasis data yang lebih cepat, tepat, dan akurat.
Dalam arahannya, disampaikan bahwa Juknis yang disusun harus mampu mengakomodasi dinamika implementasi di lapangan dengan tetap memperhatikan prinsip efektivitas, efisiensi, akuntabilitas, dan keberlanjutan sistem. Pedoman tersebut juga diharapkan dapat menjadi landasan dalam pengembangan sistem layanan laboratorium veteriner yang semakin terintegrasi di masa mendatang.
Pada kegiatan ini, seluruh peserta, termasuk Balai Veteriner Banjarbaru, turut memberikan berbagai masukan dan pembahasan terkait mekanisme implementasi aplikasi, tata kelola pengguna, alur layanan laboratorium, standar pelaporan, keamanan data, hingga strategi pengembangan sistem secara berkelanjutan.
Implementasi IVLAB yang terintegrasi diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan peternak. Dengan sistem data laboratorium yang lebih terhubung dan terdigitalisasi, proses pelaporan dan deteksi penyakit hewan dapat dilakukan lebih cepat dan akurat sehingga mendukung pengendalian penyakit secara efektif.
Bagi peternak, sistem yang terintegrasi akan membantu mempercepat layanan pengujian laboratorium dan penanganan kasus kesehatan hewan, sehingga dapat meminimalkan risiko kerugian akibat penyakit ternak. Sementara bagi masyarakat, penguatan sistem laboratorium veteriner akan mendukung terjaminnya keamanan pangan asal hewan serta meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat secara luas.
Melalui partisipasi dalam kegiatan ini, Balai Veteriner Banjarbaru terus mendukung penguatan sistem kesehatan hewan nasional melalui pengembangan layanan laboratorium veteriner yang profesional, modern, dan berbasis teknologi informasi.

